TUGAS JURNAL REFLEKSI DWIMINGGUAN MODUL 1.1 AINUL ANDY SUDARMOKO





Tugas Refleksi Dwi Mingguan 1.1 - Oleh Ainul Andy Sudarmoko.

Setelah mempelajari materi dan pengetahuan pada dua minggu terakhir ini tentang filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara saya sangat merasa resah, karena pembelajaran yang salama ini saya pandu dan laksanakan bersama anak-anak didik (murid) saya belum sesuai dengan kodrat alam dan zaman serta saya masih belum menjadi pamong bagi mereka  secara utuh. Selain keresahan tersebut muncul rasa bersalah kepada murid-murid saya, karena saya masih mengeneralisir pembelajaran baik dalam hal materi, proses maupun pengukuran keberhasilan setiap anak dan masih kurang mengayomi dan datang kepada anak dengan suci hati dan tulus ikhlas menuntun mereka dalam belajar. Hal tersebut masih belum sesuai dengan kodrat alam, zaman, kecenderungan belajar masing-masing anak dan hak anak memperoleh pendidikan yang berhamba pada mereka. Anggapan pribadi terhadap pembelajaran yang telah dilalui murid saya tersebut baik sebagian kecil atau besar murid saya  merasa bosan dan tidak menyenangkan dalam proses pembelajaran, mengingat pembelajaran belum mengakomodasi kodrat mereka. Meskipun hal-hal yang kurang menyenangkan tersebut, saya merasa bersyukur karena memiliki kesempatan untuk melakukan evaluasi dalam hal pembelajaran yang saya lakukan di program guru penggerak angakatan 5 ini. Selain hal-hal tersebut saya masih beradaptasi dengan tugas-tugas dalam program guru penggerak, mengingat tugas dan tanggung jawab saya sebagai guru dan tugas lain secara kedinasan lumayan banyak sehingga perlu mengatur ulang dan menata dengan cermat agar seluruh tanggung jawab selasai tepat pada waktunya.

Selain tamparan pada jiwa saya sebagai seorang guru diatas, materi pada dua minggu ini sangat membekas dalam diri saya sebagai seorang guru. Bekas tersebut adalah tentang konsep Kodrat alam dan zaman murid, Trikon, Trilogi filosofi pendidikan KHD, menjadi among bagi murid dan yang terakhir adalah penghambaan kepada murid secara utuh. Hal-hal tersebut hendaknya saya miliki dalam melaksanakan pembelajaran dan pendidikan bersama mereka. Hal-hal tersebut sekarang seolah-olah menjadi rule model dalam diri saya sebagai seorang guru. Rule model yang saya maksud adalah, guru harus mengakomodasi masing-masing kodrat alam dan zaman murid tidak  memaksakan kehendak kepada murid untuk memiliki kesamaan dalam hal kompetensi intelegensi maupun keterampilannya. Rule model lain adalah tentang guru harus menghamba kepada murid, murid adalah fokus utama (mereka perlu diamong dengan sepenuh hati)  dan sekaligus sebagai subjek pendidikan, bukan lagi guru yang sebagai pusat dari pembelajaran itu sendiri. Rule model berikutnya adalah pemahaman tentang kodrat masing-masing murid, tentu tidaklah mungkin menyamaratakan mereka dengan keberagamannya tersebut. Hal tersebut harus diimplementasikan dalam pembelajaran (aksi nyata) dengan mendesain pembelajaran yang mengskomodasi masing kodrat yang mereka miliki, sehingga kita harus mengenal secara mendalam masing-masing dari murid tersebut. Contoh aksi nyata yang saya lakukan adalah dengan melaksanakan pembelajaran dengan lebih mendekat kepada mereka, baik mendekat secara emosional maupun secara fisik. Setelah hal tersebut saya lakukan mereka (murid) sangat terbuka dan lebih leluasa dalam menyampaikan pendapat dan merasa nyaman dekat dengan guru. Hal lain yang nampak adalah, mereka lebih merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran yang mereka lakukan dengan guru sebagai fasilitator, bukan sebagai "pemeran utama" dalam pembelajaran. Karena kedekatan guru dan siswa tersebut (proses penebalan karakter sosial dan budi pekerti luhur saat berkomunikasi dan bersosialisasi) dalam proses pembelajaran saya sangat merasa optimis bahwa mereka adalah anak yang luar biasa tanpa terkecuali, mereka memiliki potensi unik dan iconic pada masing-masing dari diri mereka. Potensi tersebut adalah hal yang berharga setiap mereka sebagai bekal untuk hidup di zaman dan alam mereka, tinggal guru untuk menuntun mereka meraih apa yang mereka tersebut sehingga akan terjadi penebalan nilai-nilai baik di dalam diri mereka. Dari potensi dan rasa optimis terhadap mereka tersebut, saya juga merasa sangat senang, karena setiap anak ini akan sukses dengan masing-masing bakat dan minat yang mereka miliki, tinggal kita sebagai guru untuk mendidik mereka dengan suci hati dan penuh penghambaan.

Pelajaran yang saya peroleh setelah melakukan aksi nyata diatas adalah pendidikan dan pengajaran yang baik dan humanis adalah yang memiliki makna kepada murid, makna yang dimaksud adalah perubahan budi pekerti menjadi semakin baik dan memiliki kemampuan praktis-teoritis yang menjadi long time memory dalam benak danjiwa murid. Hal tersebut dapat saya contohkan berikut: Dari pengalaman belajar saya pada waktu bersekolah dahulu, saya kira kenangan tersebut akan saya ingat sampai kapan pun. Memori itu adalah tentang pembelajaran yang didesain oleh guru saya di masa SMP pada pelajaran Biologi. Bu Ulfa nama orang luar biasa tersebut, beliau waktu itu mengajarkan kami untuk mengidentifikasi makhluk hidup yang terjaring dalam sebuah persegi bambu yang kami lempar di lapangan belakang kelas kami. Disana saya mengidentifikasi berbagai macam makhluk hidup dan benda mati. Lewat pelajaran tersebut saya sangat memahami dan mampu memilah komponen biotik dan abiotik, bahkan sampai saat ini saya masih sangat ingat memori kira-kira 19 tahun yang lalu itu. Kenapa saya sangat mengenang pembelajaran tersebut, karena Bu Ulfa mengakomodir kodrat alam saya sebagai orang yang memiliki kecerdasan natural yang lebih tinggi dibanding kecerdasan lain yang saya miliki, sehingga sekali dipantik dengan hal-hal yang berbau alam maka akan sangat mengena, apalagi kegiatan tersebut dilakukan di laur ruangan tanpa batas halaman buku dan jendela kelas lagi. Tentu hal tersebut sangat memiliki konektifitas dengan filosofi pendidikan menurut KHD tentang kodrat alam dan zaman masing-masing murid.

Berdasar hal tersebut apabila dikaitkan dengan diri saya sebagai calon guru penggerak adalah dengan mendesain pembelajaran dalam kelas saya untuk menghadirkan pengalaman belajar bagi murid yang tak mudah dilupakan dan memberikan perubahan dalam hal budi pekerti secara permanen kepada anak. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan penebalan budi pekerti melalui pembelajaran yang dilaksanakan dengan cara yang bermakna, salah satu cara yang dapat digunakan yaitu dengan memiliki data kecenderungan kecerdasan masing-masing murid dan mengetahui masing-masing kodrat alam dan zaman dari masing-masing murid. Selain melakukan hal tersebut di kelas saya secara pribadi, tentu hal positif ini perlu untuk didiskusikan bersama teman sejawat untuk dapat dilaksanakan semakin luas di sekolah dimana tempat saya mengabdi. Selain hal tersebut membuat sebuah publikasi tentang praktik baik yang pernah saya lakukan tentang pembelajaran yang menghamba pada anak dan selalu berpedoman pada kodrat alam dan zaman masing-masing anak di kelas/sekolah.

Impementasi nyata dalam pembelajaran dari penerapan filosofi pendidikan KHD kepada murid adalah dengan melaksanakan pembelajaran yang penuh kasinh sayang dan senantiasa menanamkan nilai-nilai budi pekerti baik kepada murid. Selain hal tersebut implementasi dapat dilaksanakan dengan memposisikan murid sebagai subjek pembelajaran sepenuhnya serta mendesain pembelajaran yang mengakomodasi seluruh kecerdasan/kodrat masing-masing anak di dalam kelas. Dengan hal tersebut seorang murid akan terasah secara matang pada masing-masing kodrat yang mereka miliki. Dengan sistem among pembelajaran yang demikian murid diharpakan mampu hidup bahagia dan selamat baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat. 

Komentar